HAKIKAT
INOVASI KURIKULUM DAN PEMBELAJARAN
Perubahan
adalah suatu bentuk yang wajar terjadi, bahkan para filosof berpendapat bahwa
tidak ada satupun di dunia ini yang abadi kecuali perubahan. Tampaknya
perubahan ini merupakan sesuatu yang harus terjadi tetapi tidak jarang
dihindari oleh manusia. Semua perubahan akan membawa resiko, tetapi strategi
mempertahankan struktur suatu kurikulum, metode, model dan media. Tanpa
perubahan akan membawa bencana dan malapetaka, sebab mengkondisikan dalam
posisi status quo menyebabkan pendidikan tertinggal dan generasi bangsa
tersebut tidak dapat mengejar kemajuan yang diperoleh melalui perubahan. Dengan
demikian, inovasi selalu dibutuhkan, terutama dalam bidang pendidikan, untuk
mengatasi masalah-masalah yang tidak hanya terbatas masalah pendidikan tetapi
juga masalah-masalah yang mempengaruhi kelancaran proses pendidikan.
Secara etimologi inovasi berasal dari
kata latin innovaation yang berarti pembaharuan dan perubahan. Kata kerjanya
innovo yang artinya memperbarui dan mengubah. Inovasi ialah suatu perubahan
baru yang menuju ke arah perbaikan dan berencana (tidak secara kebetulan saja). (Idris, Lisma
Jamal 1992 : 70).
Proses
munculnya inovasi karena ada permasalahan yang harus diatasi, dan upaya
mengatasi permasalahan tersebut melalui inovasi (seringkali disebut dengan
istilah "pembaharuan" meskipun istilah ini tidak identik dengan
inovasi). Inovasi ini harus merupakan hasil pemikiran yang original, kreatif,
dan tidak konvensional. Penerapannya harus praktis di mana di dalamnya terdapat
unsur-unsur kenyamanan dan kemudahan. Semua ini dimunculkan sebagai suatu upaya
untuk memperbaiki situasi/keadaan yang berhadapan dengan permasalahan.
Kurikulum adalah
seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi dan bahan pelajaran
serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran
untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Kurikulum adalah suatu hal yang
esensial dalam suatu penyelenggaraan pendidikan. Kurikulum bukan sebagai tujuan akhir. Seiring dengan
perubahan masyarakat dan nilai-nilai budaya, serta perubahan kondisi dan
perkembangan peserta didik, maka kurikulum juga mengalami perubahan. Kurikulum
meliputi komponen-komponen, yaitu tujuan pendidikan, tujuan instruksional, alat
dan metode instruksional, pemilihan dan pembimbingan materi program, evaluasi
dan staf pelaksanaan kurikulum. Semua komponen tersebut harus dipertimbangkan
dalam penyusunan kurikulum secara keseluruhan
Inovasi kurikulum dan
pembelajaran adalah suatu ide, gagasan atau tindakan-tindakan tertentu dalam
bidang kurikulum dan pembelajaran yang dianggap baru untuk memecahkan
masalah-masalah pendidikan. Inovasi biasanya muncul dari keresahan pihak-pihak
tertentu tentang penyelenggaraan pendidikan, dengan kata lain bahwa inovasi itu
ada karena adanya masalah yang dirasakan. Dalam bidang pendidikan, inovasi biasanya muncul dari adanya keresahan pihak-pihak tertentu tentang penyelenggaraan
pendidikan. Misalkan, keresahan guru tentang pelaksanaan proses belajar
mengajar yang dianggapnya kurang berhasil, keresahan pihak administrator pendidikan tentang kinerja guru, atau mungkin
keresahan masyarakat terhadap kinerja dan hasil bahkan sistem pendidikan .
Keresahan-keresahan itu pada akhirnya membentuk permasalahan-permasalahan yang
menuntut penanganan dengan segera. Upaya untuk memecahkan masalah itulah muncul
gagasan dan ide-ide baru sebagai suatu inovasi. Dengan demikian, maka dapat
kita katakan bahwa inovasi itu ada karena adanya masalah yang dirasakan; hampir tidak mungkin
inovasi muncul tanpa adanaya masalah yang dirasakan
Beberapa
faktor yang menuntut adanya inovasi kurikulum dan pembelajaran adalah sebagai
berikut:
1.
Perkembangan ilmu pengetahuan menghasilkan kemajuan teknologi yang mempengaruhi
kehidupan sosial, ekonomi, politik, pendidikan, dan kebudayaan bangsa
Indonesia.
2. Laju
eksplosi penduduk yang cukup pesat, yang menyebabkan daya tampung, ruang, dan
fasilitas pendidikan yang sangat tidak seimbang.
3.
Melonjaknya aspirasi masyarakat untuk memperoleh pendidikan yang lebih baik,
sedangkan dipihak lain kesempatan sangat terbatas.
4. Mutu
pendidikan yang dirasakan makin menurun, yang belum mampu mengikuti
perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
5. Belum
berkembangnya alat organisasi yang efektif, serta belum tumbuhnya suasana yang
subur dalam masyarakat untuk mengadakan perubahan perubahan yang dituntut oleh
keadaan sekarang dan yang akan datang.
6.
Kurang ada relevansi antara program pendidikan dan kebutuhan masyarakat yang sedang
membangun.
Beberapa kriteria dan syarat dalam
inovasi kurikulum: (1) Kurikulum harus up to date, (2) Kurikulum
memberikan kemudahan untuk memahami prinsip-prinsip pokok dan
generalisasi-generalisasi. (3) Kurikulum memberikan kontribusi pengembangan
keterampilan, kebiasaan berfikir bebas, dan didiplin berdasarkan pengetahuan.
(4) Kurikulum menyumbang terhadap pengembangan moralitas yang essenisial dan
yang berkenaan dengan evaluasi dan penggunaan pengetahuan, (5) Kurikulum
mempunyai makna dan maksud bagi para siswa, (6) Kurikulum menyediakan suatu
ukuran keberhasilan dan suatu tantangan, (7) Kurikulum menyumbang terhadap
pertumbuhan yang seimbang, (8) Kurikulum mengarahkan tindakan sehari-hari dan
mengarahkan pelajaran serta pengalaman selanjutnya.
prinsip umum dalam pengembangan
inovasi yang perlu dievaluasi kurikulum tersebut antara lain :
1. Prinsip relevansi. Kurikulum yang
kita rancang dan kembangkan apakah sudah relevan dengan kebutuhan peserta didik
untuk menjawab kebutuhan masyarakat.
2. Prinsip fleksibilitas. Kurikulum
yang kita rancang dan kembangkan apakah sudah bersifat adaptif, mampu
menyesuaikan diri dengan konteks pembelajaran.
3. Prinsip kontinuitas. Kurikulum yang
kita rancang dan kembangkan memungkinkah peserta didik lebih sanggup
mengembangkan potensinya kelak dalam rencana belajar berikutnya (prinsip
belajar sepanjang hayat).
4. Prinsip praktis. Kurikulum sebaiknya
mudah digunakan dengan alat sederhana dan biaya relatif murah, terutama dalam
situasi ekonmi dewasa ini. Selain itu, apa yang dipelajari mahasiswa seharusnya
mampu membentuk dan meningkatkan kompetensi mereka di dalam kehidupan
sehari-hari.
5. Prinsip efektivitas. Efektivitas
sebuah kurikulum harus dilihat dari sejauhmana perubahan peserta didik,
sebagaimana dampak dalam kehidupan dan karyanya.
Ciri-ciri suatu inovasi yang
dikemukakan oleh Rogers :
a) Adanya
Keuntungan relatif (Relative Advantages), yaitu sejauh mana inovasi
dianggap menguntungkan bagi penerimanya. Tingkat keuntungan atau kemanfaatan
suatu inovasi dapat diukur berdasarkan nilai ekonomi, faktor status sosial
(gengsi), kesenangan, kepuasan atau mempunyai komponen yang sangat penting
makin menguntungkan bagi penerimaan makin cepat tersebarnya inovasi. Suatu
inovasi yang diyakini memiliki kemungkinan peluang keuntungan relatif yang
semakin tinggi, maka semakin tinggi pula kemungkinan percepatan adopsi tersebut
oleh masyarakat. Misalnya, pada saat sekolah memperkenalkan program Cara
Belajar Siswa Aktif (CBSA) dalam pembelajaran di sekolah, yang pertama
dipikirkan oleh komunitas sekolah adalah apakah pendekatan pembelajaran
tersebut memeliki keuntungan relatif dibandingkan dengan pola pembelajaran
sebelumnya? Bila jawabannya, “ya”, maka bentuk inovasi yang ditawarkan akan
dengan cepat direspon oleh para guru ataupun orangtua.
b) Kompatibel
(compatibility) dan adanya kesepahaman, yaitu tingkat kesesuaian inovasi
dengan nilai, pengalaman lalu dan kebutuhan dari penerima. Inovasi yang tidak
sesuai dengan nilai atau norma yang diyakini oleh penerima tidak akan diterima
secepat inovasi yang sesuai dengan norma yang ada. Misalnya penyebarluasan
penggunaan alat kontrasepsi di masyarakat dalai melaksanakan program Keluarga
Berencana (KB) , bagaimana hal tersebut sejalan dan dirasakan memiliki compatibility
dengan suatu agama yang dianut oleh masyarakat yang mengadopsinya. Atau dalam
bidang pendidikan, pada saat sekarang ini banyak bangunan sekolah dasar (SD)
yang rusak, maka digulirkan program peduli sekolah dengan melibatkan semua
potensi masyarakat termasuk pemnerintah dalam membangun gedung sekolah, apakah
program tersebut sesuai dengan sistem nilai yang ada , terutama dengan budaya
gotong-royong masyarakat kita?
c) Memiliki Derajat
Kompleksitas (complexity), yaitu tingkat kesukaran untuk memahami dan
menggunakan inovasi bagi penerimanya. Suatu inovasi yang mudah dimengerti dan
mudah digunakan oleh penerima akan cepat tersebar, sedang inovasi yang sukar
dimengerti atau sukar digunakan oleh penerima akan lambat proses penyebarannya.
Makin mudah dimengerti suatu inovasi akan makin cepat diterima oleh masyarakat.
Misalnya, pada waktu akan diperkenalkan penelitian tindakan Kelas-PTK (
classroom action research) sebagai upaya untuk meningkatkan mutu, apakah
program tersebut memiliki tingkat kesulitan dan kompleksitas yang tinggi atau
tidak dalam pelaksanaanya di sekolah?
d)
Trialibilitas (trialibility), artinya sampai sejauh mana suatu
inovasi dapat diujicobakan keandalan dan manfaatnya. Suatu hasil inovasi dapat
dengan mudah diadopsi, manakala hal tersebut dapat dilihat dan diujicobakan
melalui pengalaman lapangan. Misalnya, ketika jagung hibrida Sebagai produk
inovasi pertanian, maka jagung jenis unggulan ini dapat diuji langsung oleh
petani pada lahan pertanian mereka. Dalam bidang pendidikan, misalnya pada saat
ditawarkan pembelajaran kontekstual (Contextual Learning) di sekolah, maka guru
akan melakukan praktik KBM yang bercirikan kontekstual tersebut, apakah mudah
diadopsi, sehingga guru dapat dengan mudah mengujicobakannya di kelas masing-masing?
e) Dapat
diamati (observability), yaitu mudah tidaknya diamati suatu hasil
inovasi. Suatu inovasi yang hasilnya mudah diamati akan makin cepat diterima
oleh masyarakat. Misalnya penyebarluasan penggunaan bibit unggul padi, karena
para petani dapat dengan mudah melihat hasil padi yang menggunakan bibit unggul
tersebut, maka mudah untuk memutuskan mau menggunakan bibit unggul yang
diperkenalkan (Ibrahim, 1988, hal. 47-48).
Dalam bidang pendidikan misalnya seperti
pada saat dilakukan penggabungan sekolah (school merger), khususnya di
SD, dalam upaya meningkatkan efisiensi dan efektivitas pengelolaan pendidikan
2.2.2 Ciri-Ciri Inovasi Pendidikan
Terdapat empat ciri utama inovasi, termasuk inovasi dalam
pendidikan. Keempat ciri utama tersebut adalah sebagai berikut :
1. Memiliki kekhasan/khusus.
Artinya, suatu inovasi memiliki ciri yang khas dalam arti ide, program,
tatanan, sistem, termasuk kemungkinan hasil yang diharapkan. Ciri yang khusus
berarti program inovasi dapat berdimensi makro atau luas dengan melibatkan
banyak orang dengan rentang waktu yang relatif lama. Namun demikian, ciri
khusus ini juga dapat berdimensi mikro atau cakupan kecil, sederhana dengan
melibatkan orang yang terbatas dan dengan durasi waktu yang terbatas pula.
Suatu inovasi bercirikan spesifik dalam arti suatu inovasi memunculkan kondisi
khusus, dan bukan asal tersebar saja. Misalnya program guru kelas rangkap (multi-grade teachers), dianggap sebagai
suatu inovasi karena program ini memilik ciri khusus dibanding dengan program
sejenis yang ada.
2. Memiliki ciri atau unsur
kebaruan. Dalam arti suatu inovasi harus memiliki karakteristik sebagai buah
karya dan buah pikir yang memiliki kadar orisinalitas dan kebaruan. Dengan
demikian, inovasi merupakan suatu proses penemuan (invention). Baik berupa ide, gagasan, hasil, sistem, ataupun produk
yang dihasilkan.
3. Program inovasi
dilaksanakan melalui program yang terencana. Dalam arti bahwa suatu inovasi
dilakukan melalui suatu proses yang tidak tergesa-gesa, namun kegiatan inovasi
dipersiapkan secara matang dengan program yang jelas dan direncanakan terlebih
dahulu. Proses inovasi bukan suatu proses yang tiba-tiba dan tidak disengaja,
tetapi tahapan yang harus dilaksanakannya. Seperti pada saat diluncurkannya
program managemen berbasis sekolah (school
based management), tahapan pelaksaannya tidak secara tergesa-gesa, tetapi
melalui tahapan-tahapan yang direncanakan sejak awal.
4. Inovasi
yang digulirkan memiliki tujuan. Program inovasi yang dilakukan harus memiliki
arah yang ingin dicapai, termasuk arah dan strategi untuk mencapai tujuan tersebut. 
Seperti yg kita tahu inovasi digunakan utk mencapai tujuan pembelajaran. Nah yg mau ditanyakan, bagaimana jika ternyata inovasi yg dikembangkan tidak sesuai dg implementasi dn hasil yg ingin di capai dlm pembelajaran? Apakah kita bisa mengatakan inovasi yg kita ciptakan gagal? Dn bagaimana jika inovasi yg berasal dr pusat tidak sesuai dg tempat pelaksanaannya?
BalasHapusterima kasih untuk pertanyaannya
BalasHapusinovasi kurikulum sebagaimana kita ketahui timbul akibat permasalahan dan perubahan yang terjadi dalam pendidikan dan masyarakat dan tentu pengembangannya perlu waktu yang cukup lama untuk bisa di implementasikan secara luas.. keberhasilan pengembangan inovasi tergantung pada bagaimana, kepada siapa, dan dimana penerapannya,, jadi belum tentu kita dapat mengatakan inovasi gagal jika penerapannya tidak terlaksana dengan baik. oleh karena itu, guru yang memiliki peran utama dalam pelaksanaan pendidikan harus mampu menyesuaikan kondisi dan fasilitas sekolah dengan inovasi kurikulum yang sudah diterapkan secara nasional.
Klo inovasi pembelajaran jelas beda2 ya kak tergantung guru yg ingin ato tidak melakukan inovasi. Nah klo inovasi kurikulum??? Apakah seluruh inovasi kurikulum saat ini sama? Ato beda2 juga kak? Klo scra Nasional berarti tidak menutup kemungkinan bakalan sama disetiap sekolah.
BalasHapusBagus dan mantap
BalasHapusinovasi adalah suatu yang di amati sebagai suatu yang baru bagi seseorang. Apa yang menjadi ciri bahwa sesuatu itu baru bagi seseorang?
BalasHapus